
Pagi itu, 24 Agustus 2025, cahaya matahari masih lembut menyapu garis pantai Lampulo. Udara asin laut bercampur dengan semilir angin yang membawa aroma khas hutan bakau. Daun-daun mangrove berdesir, seperti menyambut tamu-tamu kecil yang datang dengan semangat. Mereka adalah siswa Akademi Etika Lingkungan (AEL), sebuah akademi kecil yang memelihara impian besar: menumbuhkan generasi yang mencintai bumi, sejak langkah awal mereka berjejak di atas tanah.
Sebanyak 25 siswa hadir pagi itu, masih dengan semangat kemerdekaan yang baru saja diperingati bangsa. Kemerdekaan bukan hanya soal merdeka dari penjajahan manusia atas manusia, melainkan juga tentang merdeka dari kebodohan ekologis, dari keterasingan anak-anak kota terhadap alam yang seharusnya menjadi rumah sejati mereka. Dan hari itu, kemerdekaan mereka rayakan dengan caranya sendiri: menanam mangrove, bermain dengan lumpur, merasakan bumi lewat telapak kaki yang basah, dan menyatu dengan elemen-elemen paling purba dari kehidupan.
Jejak Pertama: Menyapa Ekosistem Pesisir
Kegiatan dimulai di sebuah pondok kecil yang berdiri teduh di tengah hutan mangrove. Dari tempat itu, siswa bisa melihat akar-akar tunjang yang mencengkeram kuat tanah berlumpur, seperti tangan-tangan perkasa yang menjaga daratan dari kikisan laut. Di sana, seorang fasilitator memperkenalkan mereka pada ekosistem pesisir.
Dengan bahasa sederhana namun penuh makna, ia bercerita tentang mangrove: tentang pohon-pohon yang tidak hanya hidup di antara laut dan darat, tapi juga menjadi penjaga batas keduanya. Tentang jenis-jenisnya yang beragam, dari Rhizophora yang akarnya menjulang seperti tiang pancang, hingga Avicennia yang tegak dengan akar pensilnya yang unik. Tentang perannya sebagai rumah bagi ratusan spesies burung, ikan, udang, kepiting, bahkan ular laut. Tentang betapa mangrove ibarat benteng hijau yang menyelamatkan manusia dari amukan tsunami—sebuah memori pahit yang masih melekat kuat di tanah Aceh.
Anak-anak mendengarkan dengan mata berbinar, sesekali mengangguk, sesekali saling berbisik. Ada yang baru tahu bahwa mangrove bisa menahan abrasi. Ada yang terkejut mendengar bahwa burung migran dari Siberia bisa singgah di sini, ribuan kilometer jauhnya, hanya untuk mencari makan. Materi itu memang sederhana, hanya pengantar. Tapi ia menjadi pintu pembuka menuju pengalaman yang lebih mendalam: pengalaman merasakan langsung makna dari semua yang baru saja mereka dengar.
Bekal Kecil, Semangat Besar
Selesai sesi perkenalan, anak-anak dipersilakan menikmati bekal yang mereka bawa. Bekal sederhana, tapi terasa istimewa ketika dimakan di tengah hutan bakau. Suara burung bercampur dengan deru ombak jauh di pantai, seolah menjadi musik pengiring makan siang kecil mereka. Ada yang tertawa karena bekalnya basah terkena embun, ada yang saling bertukar makanan, dan ada pula yang diam-diam memperhatikan kepiting kecil berlarian di sela akar mangrove.
Tak lama kemudian, fasilitator memberi aba-aba. Saatnya bergerak ke lokasi penanaman. Jaraknya hanya lima puluh meter dari pondok, tapi perjalanan itu terasa seperti memasuki dunia lain.
Menyusuri Lorong Bakau
Anak-anak berjalan beriringan, satu per satu, menyusuri lorong alami yang dibentuk oleh rimbunnya pepohonan bakau. Cahaya matahari hanya menetes kecil di antara celah daun, menciptakan bayangan yang berayun lembut di permukaan tanah. Sebelum melangkah lebih jauh, mereka diminta melepas sepatu.
Ada keraguan di wajah beberapa anak. Lumpur yang hitam pekat itu tampak asing. Ada yang meringis geli, ada yang langsung tertawa kecil. Tapi begitu kaki telanjang mereka menyentuh tanah, semuanya berubah. Ada sensasi dingin, lembut, menelan tumit hingga ke mata kaki. Ada pasir halus yang menyelip di antara jari-jari. Ada rasa seakan bumi memeluk mereka erat.
Inilah yang disebut grounding: menghubungkan tubuh langsung dengan tanah, membiarkan energi bumi mengalir melalui kaki yang tak beralas. Sebuah pengalaman sederhana, tapi membekas dalam ingatan.
Menanam Sambil Membumi
Sampailah mereka di lokasi penanaman. Bibit-bibit mangrove kecil telah disiapkan. Setiap siswa mendapat kesempatan menanam sendiri. Dengan tangan mungil mereka menggali lumpur, menancapkan bibit, dan menimbun kembali dengan tanah basah.
Sebagian anak melakukannya dengan penuh serius, mengukur kedalaman, memastikan bibit tegak lurus. Sebagian lain malah tertawa-tawa, sengaja mengotori wajah dengan lumpur, atau melempar cipratan kecil ke temannya. Ada juga yang terdiam lama, menatap bibit yang baru ditanam, seakan memahami bahwa ia baru saja menaruh sebuah kehidupan baru di bumi.
Menanam mangrove bagi mereka bukan sekadar tugas, melainkan perjumpaan. Perjumpaan dengan tanah, dengan air, dengan pohon, dengan kehidupan yang lebih luas daripada diri mereka sendiri.
Pasang yang Datang, Riang yang Meledak
Waktu bergulir cepat. Saat penanaman hampir selesai, air pasang perlahan merambat naik. Gelombang kecil masuk menyusuri celah akar, menyentuh kaki anak-anak yang masih telanjang. Dalam sekejap, lokasi yang tadinya lumpur kering berubah menjadi arena bermain air.
Anak-anak yang tadinya serius menanam langsung berlarian, bersorak gembira. Lumpur yang menempel di tubuh hanyut terbawa air, berganti dengan cipratan bening yang membuat mereka tertawa lepas. Ada yang sengaja terjatuh, ada yang berkejaran, ada yang berbaring menikmati dinginnya air pasang.
Pemandangan itu sungguh indah: anak-anak kota, yang biasanya hanya mengenal lumpur dari buku atau layar televisi, kini bermain bebas di tengah hutan mangrove. Tidak ada gadget, tidak ada suara mesin, hanya mereka dan alam.
Experiential Learning: Belajar dengan Jiwa
Inilah yang disebut experiential learning approach—pembelajaran berbasis pengalaman. Anak-anak tidak hanya mendengar tentang mangrove, tetapi benar-benar mengalaminya. Mereka tidak hanya diberi tahu bahwa mangrove penting, tetapi merasakan sendiri bagaimana menanamnya, bermain di dalamnya, dan menjadi bagian dari ekosistemnya.
Pengalaman ini tidak bisa digantikan dengan buku atau teori. Sebab yang membekas bukan hanya pengetahuan, tetapi rasa. Rasa geli saat pertama kali menginjak lumpur. Rasa senang saat bibit kecil berdiri tegak di tanah basah. Rasa bebas saat berlari di air pasang. Semua itu menempel di hati, membentuk kesadaran ekologis yang jauh lebih kuat dibanding sekadar hafalan.
Menumbuhkan Penjaga Bumi Masa Depan
Suatu hari, dua puluh tahun dari sekarang, anak-anak ini akan menjadi orang dewasa. Mereka mungkin menjadi guru, dokter, insinyur, pengusaha, atau bahkan pemimpin negeri. Tapi yang lebih penting, mereka akan membawa satu ingatan yang tak akan hilang: bahwa mereka pernah menanam pohon, bermain dengan lumpur, merasakan pelukan bumi.
Dari pengalaman itu, tumbuh benih kesadaran bahwa alam bukan sekadar latar belakang kehidupan, melainkan bagian tak terpisahkan dari diri mereka. Bahwa bumi adalah rumah yang harus dijaga, bukan dieksploitasi.
Jika kita menjauhkan anak-anak dari alam, bagaimana mungkin kita berharap mereka akan menjaganya? Tapi dengan membawa mereka kembali ke akar, memberi kesempatan untuk menyatu dengan lumpur dan laut, kita sesungguhnya sedang memupuk penjaga bumi masa depan.
Epilog: Keceriaan yang Menggema
Ketika hari mulai siang, anak-anak berkumpul kembali di pondok. Tubuh mereka penuh lumpur, baju basah, rambut acak-acakan. Tapi wajah mereka memancarkan keceriaan yang tulus. Tidak ada rasa lelah, hanya tawa yang masih tersisa.
Di mata mereka, menanam mangrove bukan hanya soal menaruh bibit di tanah. Ia adalah petualangan, permainan, sekaligus pelajaran hidup. Sebuah pengalaman yang mereka bawa pulang, mungkin untuk mereka ceritakan pada orang tua, mungkin untuk mereka simpan sendiri di hati.
Dan bagi Akademi Etika Lingkungan, hari itu bukan hanya tentang menanam pohon. Ia adalah tentang menanam harapan. Tentang memastikan bahwa ketika generasi kita usai, masih ada generasi baru yang siap menggantikan peran: menjaga bumi, menjaga laut, menjaga hutan mangrove yang hari itu menjadi saksi keceriaan mereka.
Oleh: Heri Tarmizi